• Home
    • About
    • Life in France
    • Contact Me
    • Faq

Le petit monde de Rezki

Sebenernya gue bisa mengatakan kalau tulisan ini terinspirasi oleh peringatan hari Kartini beberapa waktu yang lalu.  Well, kartini itu identik dengan kata "Perempuan" dan Perempuan identik dengan kata "Memasak".  Ngomong-ngomong soal memasak, gue mulai suka dan rajin (walaupun belum pintar) memasak sejak tinggal di Perancis, yahh, gimana bisa seseorang yang kerjaannya waktu di Jogja keluyuran hampir tiap pagi, siang, malam nyari warung makan lalu cuma duduk diam ngeliatin akun Instaram yang posting foto makanan ketika lagi merantau di negeri orang?

Gue, mau engga mau, suka engga suka, harus bisa masak karena disini engga ada yang jual soto ayam, engga ada ibu-ibu ngemper jagain jualan gudegnya, engga ada nasi pecel, engga ada yang jual nasi goreng gerobakan, engga ada yang jual batagor dan engga ada yang jual gorengan di pinggir jalan. Bener-bener engga ada sama sekali.

Bahkan seandainyapun (walaupun gak mungkin) gue engga suka makanan-makanan itu, gue akan tetap kelimpungan karena kalau makan diluar rumah itu spend money banget, misalnya makan porsi lengkap di restoran lo harus keluarin 10-20€ per sekali makan yang padahal kalo masak dirumah duit 15-20€ itu bisa buat makan seminggu, well, gue engga bisa hidup dengan cara begitu, walaupun mungkin buat orang Perancis harga kaya gitu standar, tapi karena gue hidup dari beasiswa "Mama papa" dengan duit Rupiah yang di kurs kan, ini kerasa mahal buat gue, 

Paket makan di Restoran kampus

Kalau makan di restoran kampus, lain cerita, menu komplit segini cuma 4€ sih, lumayan lah udah dapet makanan pembuka, makanan utama, penutup, banyak varian menunya, ada dessert, puding, macem-macem deh, enak. Tapi kalo gue baru perhitungan, gue suka mikir "Ini kalo di Rupiahin berarti 55 ribu, buat sekali makan makanan yang rasanya sebenernya biasa-biasa aja, hmm mending gue bikin nasi kuning pake telor balado di rumah, modalnya engga sampe 3€ udah bisa buat makan seharian". 

Maka dari itu sejak hampir setahun yang lalu tinggal di Perancis, gue jadi rajin masak, bahkan masakan yang dulu waktu di Indonesia engga bisa gue bikin, di Perancis, entah kenapa gue jadi bisa masak-masakan itu, gue yang dulu mikirnya bikin risol, sambal balado, ayam asam manis, bubur ayam, martabak, gado-gado, pizza dll sendiri itu susah, sekarang gue bisa makan itu kapanpun gue mau, ini konsep yang gue sebut "Membawa Indonesia kemanapun kamu pergi".

Tapi gue selalu ngerasa sangat terganggu sama suatu hal, sering gue denger atau baca caption, status, tweet yang bilang "Nyari istri mah engga harus yang cantik, yang penting pinter masak aja udah cukup" atau ada temen yang bilang ke gue "Wah lo ini mah udah siap nikah ki" entah ini pujian atau basa-basi doang karena seneng baru dapet makanan gratisan. 

Gue jadi mikir, kenapa salah satu takaran utama (selain bagus agamanya) menjadi istri ideal buat kebanyakan orang di Indonesia adalah seorang perempuan yang pintak memasak? Kenapa pendidikan seorang perempuan hanya menjadi nilai tambah dalam kriteria menjadi seorang istri ideal? Padahal kalau mau dipikir lagi, peran memasak bisa digantikan oleh pembantu, atau bisa digantikan sama abang-abang soto ayam pinggir jalan. Tapi mendidik anak, yaaahh, lo yakin bisa digantikan sama abang-abang jualan cilok? "Mah, Albert Einsten itu siapa?" sebentar ya nak, biasanya sebentar lagi abang yang jual cilok lewat di depan rumah, nanti kamu nanya sama dia aja yah sayang".

Gue sampai sekarang belum pernah sama sekali denger orang bicara "Wah si itu sekolahnya tinggi, pinter sekali, kritis sekali pemikirannya, IPK nya tinggi banget, udah cocok banget jadi istri ideal". Engga pernah sekalipun gue denger orang ngomong kaya gitu.  

Terus apa gunanya perempuan sekolah tinggi-tinggi, menuntut ilmu kesana-kemari, ngejar dosen ke kanan ke kiri dan berjuang jatuh bangun sama pendidikannya kalau bagi sebagian besar laki-laki di Indonesia dan "Calon mertua" kriteria utama istri ideal adalah "Hanya" yang pintar memasak dan yang bagus agamanya.

Sayang seribu sayang kalau perempuan yang sudah susah payah sekolah tinggi-tinggi tapi masih di diskriminasi oleh wejangan "Nyari istri mah yang penting pinter masak, udah itu aja cukup". Sebagian orang Indonesia masih punya pemikiran yang menurut gue mundur kebelakang, banget, yang menganggap bahwa pendidikan seorang perempuan tidaklah penting, yang penting kamu bisa masak, udah, selesai. Menikahlah.

Mungkin beberapa dari kalian akan menyimpulkan dengan cara berbeda, gue memaklumi itu karena kita punay sudut pandang yang berbeda, tapi yang perlu sekali dicatat, gue engga mengkesampingkan perempuan yang pintar memasak dan yang bagus agamanya, dua hal ini jelas penting sekali, engga mungkin suami dan anak di masa depan selalu dibiarin jajan di luar, engga mungkin juga anak engga tahu apa itu Tuhan dan apa itu agama.

But, come on guys, anak-anak lo nanti juga perlu tahu kalau Bali itu sebuah pulau bukan kota , siapa Presiden pertama Indonesia? Apa itu teori Darwin dan banyak lagi hal lainnya. Sebenarnya besar harapan gue bahwa kita-kita ini, perempuan-perempua muda Indonesia yang kerjaannya tiap hari masih bolak-balik sekolah/kuliah bisa terus semangat buat nuntut ilmu, buat memilih untuk engga berhenti nyari pengetahuan-pengetahuan baru yang bertebaran dimana-mana. Hehehe.


"Jangan cuma kasih makan perutnya, kasih makan juga otaknya"


Share
Tweet
Pin
Share
37 komentar
Beberapa waktu yang lalu pas jalan kaki mau kerumah temen, gue ngelewatin berbagai macam toko-toko yang jual barang-barang dari harga mulai kurang dari 10 euro, puluhan euro bahkan sampai ribuan euro.

Sambil mata gue jelalatan merhatiin orang-orang Perancis lalu-lalang, ada yang pakaiannya biasa aja, ada yang dari atas sampai bawah branded semua, ada yang keluar masuk toko branded sambil jinjing tas belanja mereka dengan tampang percaya dirinya.
toko jam tangan deket tumah gue, harga jam tangannya 2000 an euro makjang...

Gue menyadari suatu hal yang rasanya thought provoking banget. Coba deh, Kalau kalian ditanya orang macam apa yang mau beli jam tangan seharga wedding package di resort di Bali? Jawaban kita pasti sama “Orang kaya”.

Sadar engga sadar selama ini kita menganggap bahwa orang kaya adalah orang yang punya uang banyak. Coba aja ketik “Cara cepat menjadi kaya” di google, maka banyak banget postingan-postingan tentang itu, dari yang masuk akal sampai sebaliknya. Itu artinya kebanyakan dari kita masih selalu mengukur bahwa kaya adalah dengan harta, dengan materi.  Punya duit banyak, rumah bagus, plesiran keluar negeri, barang-barangnya branded dsb.

Atau contoh lainnya adalah gue  yang baru menyadari bahwa selama ini gue lebih sering berdoa  “Ya Allah kasih saya uang” ketimbang “Ya Allah kasih saya kebahagiaan”. See?

Itu bikin gue bertanya ke diri gue sendiri “Jadi apakah uang sungguh-sungguh segalanya? Apakah punya uang segunung akan jadi berarti kalau lo sakit-sakitaan? Apakah punya harta berlimpah adalah hal yang membahagiakan kalau lo Cuma hidup sebatang kara? Dan apakah tinggal di rumah mewah dengan barang barang mewah menyenangkan jika keluarga lo berantakan?”. Jadi sebenarnya apasih yang kita cari kalau sebenarnya itu bukanlah uang? Ternyata gue menemukan jawabanya hanya dengan berfikir kurang dari satu jam. Yaitu "Kebahagian".

Gue ambil contoh sederhana dari diri sendiri *yang sebenarnya baru gue sadari*. Gue milih jurusan kuliah tanpa berorientasi sama uang dan tanpa mikir apakah jurusan ini peluang kerjanya besar atau engga. Kenapa? Karena sejak awal gue menyadari bahwa jurusan ini adalah jurusan yang bisa mendekatkan gue sama mimpi, goal, dan purpose yang sudah gue susun beberapa waktu silam. Kenapa begitu? Karena ketika lo punya purpose and you can achieve it, bukankah itu membahagiakan sekali?

Kembali lagi ke point awal, lalu apakah untuk dikatakan kaya kita harus punya uang banyak dulu?Bukankah itu artinya kita mengukur kaya hanya dengan satu cara? Bukankah itu artinya kita menganggap bahwa orang yang berhati besar bukan orang yang juga kaya? Gitu?

Gue rasa kaya itu bukan cuma sesuatu yang bisa kita pegang dan sentuh, kaya  juga bisa  berupa sesuatu yang cuma bisa kita rasakan seperti ketika gue ngerasa enak banget ngobrol sama stranger yang duduk di samping gue di dalam bus karena knowledgenya luas atau dinner sama senior gue sambil dengerin cerita pengalaman hidupnya jadi relawan intrernasional di daerah konflik, mendengarkan tentang bagaimana caranya bertahan hidup, melawan rasa takut dsb.

Tiba-tiba Ini mengingatkan gue lagi sama video yang pernah gue tonton di youtube yang bilang  “Orang yang miskin itu bukan mereka yang tidak punya harta tapi adalah mereka yang tidak paham  potensinya”. 

Well, Ini ngebuktiin lagi bahwa uang emang bukan segalanya dan engga segalanya selalu butuh uang kok.



Share
Tweet
Pin
Share
47 komentar

"Dulu ketika masih SMP, gue itu minderan banget, bahkan untuk sekedar lewat di depan teman-teman cowo yang lagi duduk di kursi depan kelas pun gue malu, bizzare kan?"

Itu kalimat yang pernah gue tulis di postingan >  INI, mungkin kelihatannya biasa aja tapi setelah gue ingat-ingat lagi, di depan temen cewe yang lagi duduk pun gue malu, mungkin keliatannya berlebihan, tapi sungguh, itu benar-benar terjadi sama seorang Kiki ketika SMP.

Seorang kiki waktu SMP, sering malu dan engga pedean, karena kulitnya hitam dan selalu pakai lengan panjang kemana pun dimana pun karena punya banyak bekas gigitan nyamuk, dia dulunya juga engga banyak bicara, cuma tersenyum seadanya karena malu giginya belum rapi pada saat itu, kerjaannya mengagumi diam-diam perempuan cantik di kelas lain "Ya ampun, beruntung banget ya si itu, wajahnya cantik, bersih, tenar", "Eh yang itu kulitnya coklat, tapi manis, badannya tinggi".Well, gue dulu suka memperhatikan orang lain, membayangkan betapa beruntungnya hidup mereka, betapa hebatnya mereka di lingkungannya sampai gue lupa bahwa gue pun punya sesuatu yang mungkin pada saat itu orang lain juga menganggap hal itu spesial.

Di tahun pertama SMK pun, belum ada perkembangan signifikan, gue masih minderan, masih sering mengganggap bahwa kehidupan orang lain lebih bagus dari yang gue punya, tapi saat itu gue sudah mulai berkurang malunya, mungkin karena teman sekelas semuanya perempuan.

Titik balik yang besar terjadi di tahun ketiga SMK, mungkin salah satunya karena gigi gue jadi rapi karena pakai behel jadi rasa pede sedikit meningkat, saat itu gue memberanikan diri menghubungi seorang filmmakers via kaskus dan memberanikan diri buat ngajak dia ketemu, berawal cuma meet-up sama dua orang, akhirnya sampai bikin beberapa film bareng dengan hampir sepuluh orang baru,  kita ngebentuk komunitas film di Banjarmasin pada waktu itu, tapi sayangnya komunitas itu vakum karena kesibukan masing-masing member, tapi walaupun begitu, itu pertama kalinya gue ngerasain jadi berkomunitas, ngumpul bareng tiap malam tertentu, kenal orang baru, dapet pengalaman baru, pulang bawa ilmu baru dll. Di titik ini, rasa minder dan malu gue udah berkurang drastis.

Gue pindah ke Jogja tahun 2015 untuk les bahasa Perancis, engga terlalu mulus jalannya, bulan-bulan awal tinggal di Jogja, gue engga punya temen dekat, karena sekelas cuma tiga orang dan mereka pun sudah pada punya teman masing-masing, gue kembali ngerasa sedikit terpuruk, liat temen-temen di Banjarmasin (kampung halaman) upload foto lagi kumpul-kumpul di socmed, entah itu lagi nonton, bikin film, karaokean dll. Gue iri, "Oh god, i am so jeaolous with them".

Empat bulan tinggal di Jogja dengan kesendirian, titik balik pun terulang lagi, gue dapet selebaran bahwa komunitas jendela lagi open recruitement. Well, gue memberanikan diri untuk bergabung tapi itupun setelah hampir mau pulang karena malu nyamperin kerumunan orang-orang yang ikut open recruitement, sejak di komunitas ini gue jadi makin terbiasa untuk lebih gampang ngeakrabin orang, jadi terbiasa untuk membuka topik obrolan sama orang baru dan jadi lebih nyaman untuk biacara sama orang baru. Setahun di jogja, totalnya gue berpartisipasi di empat komunitas, dua komunitas sosial, komunitas jendela dan GMB Sambel dan dua nya lagi adalah komunitas film, yang mana disini gue ketemu mas yang sekarang jadi partner gue. hehehe.

Setelah ngelewatin hal-hal yang bikin rasa percaya diri naik, saat itu gue mulai menyadari kelebihan-kelebihan yang gue punya, menyadari hal-hal yang gue miliki punya seperti teman, keluarga, badan yang sehat dll.

Dalam dunia psikologi, respect, suka dan cinta sama diri sendiri adalah bagian dari self-esteem, tingginya di ukur oleh seberapa baik lo bisa menilai diri sendiri, seberapa besar lo bisa menghargai diri sendiri, seberapa besar penghormatan lo terhadap diri sendiri dan seberapa besar lo bangga sama diri sendiri. Orang dengan self-esteem yang baik ketika ditanya "Apa kelebihan lo? kenapa menurut lo, lo itu spesial?", mereka akan bisa jawab dengan mudah. Jadi ketika lo ditanya kaya gitu tapi masih a i u e o jawabannya, berarti bisa di simpulkan anu dong :p

Well, kadang kita mengalami hal-hal yang bikin kita terpuruk dan ngerasa bahwa orang lain jauh lebih baik, gue sering bilang ke temen gue, "Ya kalau engga gitu, engga hidup namanya". Rasa sebel, minder, jeaulous, susah sekali dihilangkan sepenuhnya tapi bisa di minimalisir asal kita selalu bisa jaga ke stabilan self-esteem. Caranya?

Kalau gue sih biasanya dengan cara meluangkan waktu untuk bicara dengan diri sendiri, misalnyna gue duduk disamping jendela, melihat awan dan bilang "Ya ampun ki, lo beruntung banget karena bisa gini, gini, gini...how blessed and lucky you are". Bisa juga dengan menulis hal yang bikin lo bahagia dan bersyukur, gue juga ngelakuin ini, dengan nulis di kertas kecil hal yang bikin gue bersyukur lalu gue masukin ke toples kecil yang di kasih nama "Jar of happyness", sewaku waktu gue bisa buka untuk di baca ulang dan mengingat kembali betapa bahagianya dan beruntungnya gue. Ada lagi cara lain, yaitu menghadiahi diri sendiri,  kadang di waktu tertentu gue neraktir diri sendiri, engga perlu yang mahal-mahal, semisal beli roti di boulangerie favorit gue, soalnya roti di Perancis tuh enaaaaaak banget, beda teksturnya sama roti-roti yang ada di Indonesia, kalo kata orang sih roti-roti Perancis itu roti terenak di dunia hehehe. Atau bisa juga gue jalan-jalan sendiri, foto-foto, dulu waktu di jogja kadang gue suka ngafe entah itu sendiri atau sama mas yang itu.

Oya ketika gue bahas soal kelebihan diri sendiri dan bangga sama diri sendiri itu bukan berarti lo jadi arogan dan songong lho ya, bukan berarti lo ngerasa lebih segalanya dari orang lain dan menganggap orang lain engga ada apa-apanya, orang yang cinta sama diri sendiri itu adalah orang yang merasa dan mengaggap bahwa diri mereka itu berharga.

Gue tau gue berharga, gue punya jiwa sosial yang baik, have a good empathy, energik, berani berubah, berani mengambil resiko, gue punya purpose dan goal yang jelas bahkan untuk lima tahun kedepan, gue punya list mimpi-mimpi beserta goalnya, gue punya purpose yang selalu bikin gue excited buat ngejalanin hidup gue sekarang. Well, i know, i am a good person and of course now, i have a good and a clear skin too :P

Akhir kata gue cuma mau bilang bahwa "Semua itu berawal dari kamu yang cinta kamu, kamu yang suka kamu, kamu yang kagum sama kamu, kamu yang tau seberapa besar penghargaan kamu terhadap diri kamu sendiri"

Dan seandainya lo diminta untuk menyebutkan kelebihan yang lo punya atau alasan kenapa lo suka sama diri sendiri? Bisa engga?


Share
Tweet
Pin
Share
19 komentar

Tempo hari yang lalu, waktu mata kuliah Histoire de l'enfants (sejarak anak) di kelas TD, Ibu dosen mememinta untuk kami bikin kelompok-kelompok kecil buat ngerjain tugas untuk akhir semester awal. *tugas akhir semester awal lho ya, bukan skripsi. 

Gue udah dag dig dug karena di kelas ini belum dapet temen, duduk pun halat satu sama mba-mba di samping, gue liat mereka masing-masing sudah mulai berkelompok, ada yang berdua ada yang bertiga. Gue nanya dong, ke mba-mba yang di samping "Kalian prefer kerja berdua, apa bertiga sama aku mau?" Sumpah gue berasa berani banget nanya kaya begini.  And than mereka jawab mereka mau kerja berdua doang.  Kampret... gue diem, bingung mau gimana, sementara yang lain udah pada mulai milih subjek buat tugas mereka masing-masing, dan gue masih sendiri. Rasanya tuh kaya pengen mati tapi engga mau mati wkwkkw.

Gue cuma diem dan bilang "Okay ki, lo lagi diuntungkan, tenang tenang jangan panik" Mata gue menyusuri sekeliling ruangan, gue liat ada dua orang cewe di belakang. Gue nyoba tanya lagi "Est-ce que je peux travail avec toi les deux?", dan lucky nya adalah mereka engga keberatan kalau gue gabung sama mereka. Fyuuuhhh legaaaa.,,

Bicara soal ke "gugupan banget" di kelas kemaren, gue jadi inget waktu pertama kali ketemu sama anak-anak pena blogger banua, para blogger banjarmasin di sebuah cafe, waktu itu memang gue lagi liburan ke banjarmasin dalam rangka merayakan lebaran.

Gue jadi orang yang dateng pertama kali jam 4 sore dan disusul oleh mereka satu persatu, inget banget waktu itu yang dateng paling terakhir adalah si beta, sekitar jam 9 malem :| sebelumnya, gue udah kenal dia dari lama karena dulu pernah mampir beberapa kali ke blog dia, first impression ketika gue ketemu dia secara langsung "Ketoke ki wong e pendiem", dan sekalinya dia ngomong, semuanya tentang gundam, gundam dan gundam. *tapi bet, gue doain semoga skripsi lo cepet kelar yaaa.

Kalau soal first impression gue selama ketemu mereka itu adalah, hmm apa ya, gue bisa menyimpulkan mereka itu lumayan friendly dan sukanya mem-buly satu sama lain *peace. jadi yang awalnya gue gugup sampai bisa santai untuk duduk dan ngomong sama mereka, tapi tetep aja di beta mah yang paling diem hahaha.

Berbicara soal kegugupan, gue orangnya emang gugupan banget dan sampai sekrang pun masih begitu, contohnya adalah dua hal diatas, kadang pun kegugupan yang melanda bisa sampai bikin gue ragu untuk melakukan suatu hal, kurang baik sebetulnya, tapi sejauh ini gue masih bisa ngelawan gugup itu. Gimana caranya? Ada banyak hal sih salah satunya dengan ngerasa "Pede"

Gue inget ketika temen gue harus persentasi tentang indonesia di kelas CM kaya gini
Bayangin lo ngomong pake bahasa perancis di hadapan orang-orang sementara kemapuan bahasa lo masih belum bagus-bagus banget, dia cuma bilang ke gue "Ya biar gue engga terlalu gugup ya anggep aja diri sendiri sebagai orang yang paling bagus dan paling bisa ngomong bahasa Perancis". 

Yups, Pede,  karena rasa percaya diri akan menghasilkan pemikiran "Gue bisa, gue mampu" dan akan mengurangi rasa gugup atau bahkan menghilangkannya. < ini analisa gue sendiri sih, eaaa.

Jadi walaupun cerita gue rada panjang, inti dan kesimpulan dari postingan ini sebenernya adalah "Jadilah PeDe". Karena,,,

"Lo punya skill kaya gimanapun juga, tapi kalau lo engga PeDe, lo engga akan kemana-mana"
- Pandji Pragiwaksono


Kalau gue engga pede, mungkin sekarang gue belum dapet kelompok, kalau gue engga pede, gue mungkin engga akan ketemu sama para blogger Banjarmasin, mungkin kalau gue engga pede, gue engga akan nulis postingan ini, Dan mungkin juga, kalau gue engga pede, gue engga akan sekarang bisa merantau sejauh ini. *Eaaaa drama banget sih ki

Oya, ada video nih yang gue suka dari TED, semoga bisa buat anu...

Share
Tweet
Pin
Share
51 komentar
Newer Posts
Older Posts

Author

Facebook

Suka mikir, makan, main, jalan dan lagi ngulik-ngulik ilmu baru di Prancis buat dibawa pulang ke Indonesia

Follow Me

Google+

Galeri

Popular Posts

  • Sedikit cerita di masa lalu.
    Sedikit cerita di masa lalu.
    yang doyan ke SunMor UGM pasti tau doi hahaha ( (Sumber gambar) "Kalau fisik lo biasa-biasa aja,  jualan lo satu-satunya ya kepr...
  • Sedikit kisah di Institut Français d'Indonésie
    Sedikit kisah di Institut Français d'Indonésie
    Intro dulu dikit yah, aku di IFI ngambil kelas CFA (lupa kepanjangannya), CFA adalah kelas percepatan bahasa perancis jadi kita dijanjikan ...
  • Ada apa di jendela?
    Ada apa di jendela?
    Bonjour a tous Mungkin kalian mikir kalau gue salah ngasih judul dan nyletuk "Ki harusnya judulnya Ada apa pada jendela ki" eh e...
  • Percakapan 5 menit
    Percakapan 5 menit
    Malem Idul Adha beberapa waktu yang lalu, gue iseng nulis private mesagge di BBM. Iya gue alay terus kenapa? Jadi gue nulis “Halo Banjar...

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  April (1)
      • Ribetnya birokrasi di Prancis!!!
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (12)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (11)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (48)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (16)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (9)
  • ►  2014 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Part Of



Blogger Perempuan

Followers

Pageviews

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates