• Home
    • About
    • Life in France
    • Contact Me
    • Faq

Le petit monde de Rezki



Sebagai negara maju, Prancis menawarkan banyak kemudahan untuk semua penduduknya tanpa memandang asal, suku, ras, apalagi status asmara. 

Contohnya ? Kalau lo engga kerja, negara akan kasih duit secara cuma-cuma sebesar 500 euro per bulan, kalau dirupiahin itu 8,5 juta perbulan coy !! Serius nih engga boong gue.

Contoh lain, kalau lo ngerasa bayar rumah kemahalan, lo bisa mengajukan permohonan bantuan tempat tinggal dan negara akan bantu bayar hampir 60 % dari biaya sewa. Apartemen gue 360 euro perbulan dan gue dapat bantuan 155 euro perbulan, hampir separonya kan ? 

Bahkan kalau lo engga bisa bayar listrikpun, tinggal hubungin aja lembaga sosial (yang biasanya juga milik negara) dan mereka akan bantuin bayar listrik, kalau yang ini gue engga tau apakah bantunya dengan cara ngasih uang langsung atau dengan cara apa. Gue gak pernah nyoba.

Pokoknya Prancis benar-benar pol dalam urusan jamin-menjamin kelangsungan hidup penduduknya (bahkan kalau lo adalah orang asing) dengan bantuan-bantuan yang mereka tawarkan.

Tapi, percaya atau engga, walaupun banyak bantuan yang ditawarkan oleh pemerintah  tapi pada kenyataannya justru banyak banget orang yang engga mengajukan permohonan untuk dapat bantuan itu walaupun sebenarnya mereka memenuhi kriteria untuk ngedapetinnya. 

Tebak kenapa ? 

Hmm,,,

Birokrasi di Prancis itu super ribet, riweuh, dan makan waktu lama hingga akhirnya bikin orang jadi males, sebel, kesel, eneg.

Gue akan menjelaskan dengan ngasih contoh (lagi),,,

1. Ribetnya buka akun bank

Di Indonesia, kita hanya butuh waktu kurang dari 1 jam untuk buka rekening bank, iya kan ? dokumen yang dibutuhkan paling cuma KTP dan KK. Ajaibnya, hari itu kita juga bisa langsung dapat kartu ATM dan bahkan bisa langsung dipakai.

Di prancis ? Hahahha *gue mo ketawa dulu,,,,

Proses buka rekening di semua bank di Prancis kalau ditotal memakan waktu 15 hari. 

Persyaratannya ? Kartu identitas, kontrak rumah, kontrak langganan listrik, kartu pelajar, sertifikat sekolah, visa dan paspor (kalau lo orang asing). Apakah sudah sampai disitu ? Oh jelas tidak permirsa, untuk menyerahkan semua dokumen itu, lo harus bikin janji temu dulu, lo harus datang ke bank untuk buat janji temu, biasanya pertemuan (proses penyerahan dokumen yang gue sebutin diatas) akan dilakukan 3-5 hari setelahnya.  

Nah, setelah berkas sudah diserahkan, lo akan diminta untuk tanda tangan dokumen (kontrak buka rekening bank) yang super duper tebal, setebal skripsi lo yang ngaret banget itu, hehehe. 

Apakah setelah itu selesai ? Oh tentu tidak saudara-saudara, lo masih harus nunggu kartu ATM selama dua minggu, kartu itu nanti akan dikirim langsung ke rumah nasabah via POS. 

Akhirnya setelah 15 harian nunggu, baru deh lo resmi punya akun bank. 

2. Minta bantuan ke pemerintah

Seperti yang gue katakan diawal, kita bisa minta bantuan ke pemeintah untuk bayar sewa appartement, nama lembaganya adalah « Caisse d’allocation familliale », disingkat CAF.

Kaya gue nih yang perbulan bayar apartemen 360 euro, karena dapat bantuan dari CAF sebesar 155 euro, jadi gue hanya bayar 205 euro perbulan, bantuan itu biasanya dikirim langsung ke rekening kita atau bisa juga dikirm langsung ke rekening si empunya appartement.

Seribet apa prosesnya ? Nah tergantung apartemen yang ditinggali, kalau apartemen belum kedata di CAF (dalam arti penyewa sebelumnya engga mengajukan permhonan bantuan CAF). Nah siap-siaplah untuk beribet-ria. 

Pertama-tama kita harus datang ke kantor CAF untuk mengisi formulir pengajuan bantuan (bisa juga di web ) tapi kalau untuk yang pertama kali sebaiknya datang langsung ke kantornya, setemah itu lalu kita harus print kertas-kertas formulir tadi, selanjutnya kertas itu dibawa dan di serahkan ke empunya apartemen untuk di tanda tangzni (of course kita engga bisa langsung datang ke rumah yang punya apartemen hari itu juga, seringnya ya juga harus bikin janji temu dulu), lalu seteleh kertas itu ditandatangani ita harus datang ke kantor CAF lagi untuk menyerahkan dokumen tadi.

Itu baru prosesnya,,,,,

Persyaratan (dokumen tambahan) untuk mengajukan permohonan juga engga cuma selembar dua lembar. Kita harus nyerahin foto kopi kartu identias, paspor, visa, sertifikat sekolah, kartu pelajar, ijazah, akta kelahiran, kartu keluarga dan masih ada beberapa tapi gue lupa. 

Sukur-sukur kalau lo orang Prancis, kalau mahasiwa asing kaya gue yang surat-suratnya bukan bahasa Prancis, ya tentunya dokumen itu harus diterjemahin dulu kaya misalnya ijazah SMA, akte lahir , kartu keluarga dll. Ke bahasa Prancis, nerjemahinnya ke siapa ? Ya ke penerjemah tersumpah, dan itu akan makan waktu lagi.

Makanya wajar kalau banyak orang yang engga mengajukan permohonana untuk dapat bantuan-bantuan itu walaupun sebenarnya mereka memenuhi syarat.

3. Nyewa kost/appartement.

Sepengalaman gue tinggal di Jogja, nyari kost gampag banget, cuma sehari nyari udah dapet terus tinggal bayar dan besoknya udah bisa di tinggalin. 

Di prancis, sewa kost aka apartemen pun juga bisa di kateogrikan ribet. Ada beberapa dokumen yang harus kita kasih ke si empunya dan harus tanda tangan kontrak, setelah itu kita di ajibkan beli asuransi untuk apartemen itu. Yang terakhir ini engga seribet kaya dua di atas sih alhamdulillah.

Intinya, di Prancis itu apa-apa serba kertas bahkan gue pernah sekali waktu jual anting emas yang beratnya seuprit aja mesti tanda tangan kontrak juga -₋-

Terlepas dari semua itu, dari yang gue perhatikan adalah walaupun di awal birokrasinya ribet dan panjang, tapi untuk urusan setelahnya justru akan lebih gampang. Misalnya nih lo kehilangan kartu ATM, lo hanya perlu pergi ke bank dan lapor kehilangan kartu, mereka akan minta kita tanda tangan surat laporan kehilangan lalu mereka akan langsung ganti dengan ATM baru (of course tetap harus nunggu 2 minggu) tapi seenggaknya kita engga perlu ribet lapor ke kantor polisi kaya di Indonesia. 
Ya kalau di runtun-runtun nih, semua ada plus minusnya lah seperti contohnya putus ma pacar,,,

Apalagi ya yang kurang ? Hmm gue mikir dulu, kalau ada hal baru yang kepikiran nanti gue update lagi. 

Eh tapi perlu diingat bawa masih banyak hal-hal ribet lainnya, tiga diatas itu hanyalah contoh keribetan dari sekian banyak keribetan lainnya...
Share
Tweet
Pin
Share
15 komentar
Pintu masuk Université de caen, kampusku tercintah :*
Tadi sore ketika nunggu adzan magrib, gue rebahan di sofa sambil mainan di Instagram dan di explorenya, gue liat postingan lucu tentang gaya mahasiswa waktu masa-masa ospek, tiba-tiba gue jadi keinget bahwa di sini, di Prancis, engga ada yang namanya ospek, terus jadi kepikiran kayanya asik juga kalau ceritain beberapa hal tentang universitas di Prancis, entah itu yang publik atau swasta, biaya kuliah, dan  durasi kuliah dll. 

Oiya, btw di Prancis engga ada skripsi, cuma mo bilang aja, muehehehe

Oke, mari kita bahas dulu  soal ospek, di Prancis, engga ada ospek kaya misalnya lo wajib pakai topi purun, rambut atau jilbab di pitain atau bahkan digundulin. Yang ada hanyalah masa “Pre-rentrée ”, jadi semua mahasiwa baru di satu jurusan diminta berkumpul di satu auditorium besar dan akan mendengarkan presentasi dari setiap dosen di setiap mata kuliah, lalu ada juga presentasi dari sekretariat jurusan yang akan menjelaskan tentang seluk-beluk perkuliahan, dari mulai gedung kampus, sistem penilaian, dll deh pokoknya tentang perkuliahan, bahkan kalaupun kita engga hadir, ya engga apa-apa. Presentasi itu cuma satu hari dan cuma sejam, udah, gitu aja. Terus kita pulang deh ke rumah, tanpa ada PR besoknya harus bawa biskuit Ade Rai atau permen bau. 

Gambar dari sini
Disini, di Prancis, senior bener-bener engga ikut campur sama sekali, semuanya di lakukan oleh pihak kampus, kekurangannya sih ya kita jadi engga tau mana senior-senior kita, “gue ya gue, elo ya elo”, bahkan sampe sekarangpun nih ya gue engga tau mana “Kaka kelas” mana “Adek kelas”, yang gue tahu hanya temen satu angkatan satu jurusan, anak jurusan lain aja gue engga tau :(

Lanjuuutttt,,,

Sama seperti di Indonesia, universitas di Prancis terbagi dua, publik dan swasta, biasanya kalau kita daftar S1 di universitas publik, engga ada tes buat masuk , sistemnya kurang lebih sama kaya SBMPTN di Indonesia, tapi di beberapa universitas swasta, ada tes masuk dan pada dasarnya biaya kuliah di semua universitas di Prancis hampir sama, iya, sama-sama mahal cuy, yang membedakan adalah kalau di universitas publik biaya kuliah di subsidi oleh pemerintah jadi lebih murah ketimbang di universitas swasta dan subsidi ini berlaku untuk semua mahasiwa tanpa terkecuali, tanpa perlu bikin surat permohonan dll. 

Berapa biaya kuliah di universitas publik? rata-rata hanya 450 euro per tahun (fyi : di Prancis, bayar kuliah itu pertahun bukan persemester), biaya ini sudah termasuk asuransi sosial selama setahun, jadi tiap kali mau berobat ke dokter atau ke rumah sakit, kita dapat penggantian biaya yang akan di transfer langsung ke akun rekening bank, mungkin kurang lebih semacam BPJS kali ya ? Eh, beda ding.

Lain cerita kalau di universitas swasta, biaya kuliah berbeda-beda tergantung kebijakan universitas itu sendiri, tapi rata-rata sih berkisar antara 1.000 – 10.000 euro per tahun, beberapa juga tergantung dari pendapatan orang tua dan tentunya lebih mahal buat mahasiswa asing, misalnya deh ambil contoh di Ecole Polytechnique, salah satu kampus ter-wow yang masuknya susah plus mahal gila, di kampus ini, di tahun pertama (semester 1 & 2) kita harus bayar 6000 euro, di tahun kedua (semester 3 & 4) kita harus bayar 13.500 euro dan tahun ketiga (semester 5 & 6) harus bayar 13.500 euro, jadi jika ditotal, tiga tahun kuliah di Ecole Polytechnique uang yang harus di keluarkan adalah 33.000 euro aka 500 juta lebih. Bukan maeeeennnn ga bisa nafas gue waktu ngekurs-in barusan.

Sampai disini, kurang lebih keliatan sama kan ya kaya universitas di Indonesia ? Tapi tetep sih ada beberapa hal yang beda, menurut sepengetahuan gue di Indonesia hanya ada kelas kecil yang siswanya berkisar 30-an mahasiwa *cmiiw), tapi kalau di Prancis ada dua jenis kelas, kelas besar (Cours magistraux) di dalam auditorium segede bioskop dan kadang lebih lede dan kelas kecil (Travaux dirigé) yang berkisar 30-an mahasiswa. Di kelas besar, semua murid satu jurusan satu angkatan yang kisaran 200-300 di kumpulin dalam satu auditorium dengan satu orang dosen yang akan ngajar, nah murid yang 200-an ini nantinya di bagi-bagi menjadi beberapa kelompok untuk mengikuti kelas kecil, kuantitasnya banyak-nya pertemuan kelas besar atau kecil berbeda-beda tergantung jurusan, ada matkul yang kelas besar dan kelas kecil sekaligus, ada juga matkul yang hanya ada dalam kelas kecil, ada juga matkul yang hanya dalam kelas besar. 
  
Ini adalah ruangan buat kelas besar di kampus gue, kita nyebutnya "Amphithéâtre" 
Di kelas besar suasananya sama kaya lagi seminar, lo pernah noton Mario Teguh Golden Ways kan? Nah kaya gitu tuh, dosen jadi sosok yang memegang kendali penuh, doi yang menerangkan terus-terusan dan mahasiswa hanya sebagai pendengar, sebaliknya, di kelas kecil, mahasiswalah yang dituntut untuk lebih aktif, di kelas kecil kita punya kesempatan untuk nanya dan diskusi sama dosen secara langsung tentang materi yang kita engga faham waktu beliau menerangkan matkul-nya di kelas besar. 
Kelas kecil, gambar ini ambil di google 
Seperti yang gue bilang di awal, di Prancis engga ada skripsi dan kuliah cuma 6 semester, di Prancis istilah yang dipakai adalah tahun pertama ( semester 1 & dan 2), tahun kedua (semester 3 & 4), dan tahun ketiga (sem 5 &6), kalau di Indonesia orang lebih sering nanya “Kamu semester berapa? ” di Prancis, orang biasanya nanya “Kamu udah tahun keberapa?”. Tapi, apakah itu artinya kuliah di Prancis cuma tiga tahun ? Oh jelas tidak manceman, kan tiap semester ada ujian dan di semester genap nilai kita akan ditotal, jika ternyata nilai kita kurang (banget) dibawah angka minimal kelulusan, dan juri memutuskan kita “Ajournee”, itu artinya kita, mau engga mau harus ngulang tahun yang artinya harus ngulang dua semester itu, jadi walaupun di sini cuma ada 6 semester, tapi banyak kok mahasiswa yang akhirnya ngulang tahun jadi kuliahnya lebih dari 3 tahun.

Hal lainnya, kalau di Indonesia absen itu penting, di Prancis, tertutama di universitas publik, absen bukanlah hal yang penting, bahkan kalau lo engga masuk kuliah selama sebulanpun, lo akan masih bisa ikut ujian, bahkan di sini banyak mata kuliah yang engga di absen lho, makanya kesadaran untuk masuk kelas itu bener-bener harus datang dari mahasiwanya sendiri, kalau engga, ya siap-siap deh tenggelam pas ujian dan akhirnya ngulang tahun, apakah kalau kita banyak absen kita akan di DO? Wowww tentu tidak, percaya deh, absen itu bukan hal yang penting banget !!

Apalagi yah yang kurang ? Nanti kalau ada hal baru yang kepikiran, gue akan update lagi postingan ini, dan nanti di post lain gue bakal bahas tentang karakteristik mahassiswa di Prancis, adakah dari kalian yang penasaran? Muehehehehe
Share
Tweet
Pin
Share
18 komentar

Kemarin adalah hari terakhir ujian semester ganjil, sekarang gue cuma tinggal nunggu hasil dan nikmatin liburan musim dingin dengan leyeh-leyeh manja dirumah, rasanya tuh kaya nahan pipis dan akhirnya ketemu toilet, lega, makanya sekarang gue bisa nulis postingan ini, hahahahaha *basi banget alasannya.

Ternyata oh terhyata, gue sudah lama enggak nulis di blog, selama beberapa minggu belakangan ini gue nyoba untuk fokus sepenuhnya sama perkuliahan, setiap kali punya ide tulisan yang gue lakukan cuma bikin kerangka seadanya, lalu balik lagi mikirin kuliah. Ini alasan basi banget emang,,,

Ujian yang baru aja selesai kemaren adalah ujian tengah semester di bulan desember, dan tentunya sekarang lagi musim dingin, dan julian di musim dingin sungguh aduhai gila, (Fyi : musim dingin dari bulan desember – febuari), di negara tropis seperti di Indonesia, waktu terbit dan terbenamnya matahari kurang lebih selalu sama tiap tahun, langit mulai terang jam 6 pagi dan mulai gelap jam 6 sore, tapi lain cerita kalau di negara yang punya banyak musim.

 
Musim dingin tapi enggak ada salju, kalau di kota lain ada  tapi di Caen, udah dari beberapa tahun belakangan ini salju enggak ada lagi, sedih ya :(

Foto ini gue ambil kemaren, yang sebelah kiri waktu lagi di halte nunggu tramway jam 8.18 pagi, dan yang sebelah kanan adalah kampus gue jam 8.28 pagi, masih gelap banget kan walaupun udah jam 8 pagi. 

Di Prancis, kalau musim dingin, durasi malam akan jadi lebih panjang dan kalau musim panas, siang yang akan jadi lebih panjang. Waktu terbit dan terbenam matahir berubah-ubah tergantung musim, misalnya kalau musim dingin adzan subuh sekitar jam 08.00, yang artinya jam 08.00 pagi, langit masih gelap gulita, sedangkan, kalau musim panas adzan subuh sudah berkumandang jam 04.00 yang artinya jam 05.00 pagi, langit sudah hampir terang benderang.

Terus apa hubungannya sama kuliah ?

Jadi gini, walaupun waktu terbit dan terbenamnya matahari berseger, jam kuliah enggak pernah bergeser, entah itu di musim panas ataupun dingin, kalau lo dapet kelas yang di jam 8 pagi, berarti dari musim panas sampai nanti musim dingin, lo akan selalu masuk di jam itu, kalau musim panas oke lah ya, jam 6 pagi langit sudah terang, tapi kalau musim dingin, jam 8 pagi itu masih gelap gulita, itu sama aja artinya lo harus kuliah subuh, matahari belum terbit tapi kelas udah mulai.

Bayangin coba betapa nantangnya kuliah di musim dingin; langit masih gelap, adzan subuh pun belum, udara bisa -1°, naik tramway desak- desakan setengah mati, kurang komplit apa coba ? Bayanginnya gini deh, kalau lo pernah ke Bromo buat liat sunrise, nah itu dingin kan? itu dinginnya enggak seberapa ketimbang disini.

Kalau ngobrolin tentang ujian, gue udah mulai belajar dari awal bulan November buat persiapan ujian di bulan Desember. Seminggu sebelum ujian, porsi belajar makin kenceng, gue selalu stay di perpus kampus dari pagi sampe malem, selain buat belajar kadang yang bikin betah di perpus adalah karena males pulang kerumah, males keluar gedung perpus karena diluar dingin banget, alhasil ujung-ujungnya gue stay di sana sampai pewe se pewe-pewenya *ribet amat kalimatnya*, jadi pulang kerumah tinggal tidur, besoknya bangun, makan, keperpus lagi, gitu-gitu aja selama hmpir seminggu. 

Gue enggak bisa foto semua karna kehalang rak buku, tapi percaya deh, ini susah banget nyari tempat duduk walaupun
padahal mejanya super panjang, banyak dan perpusnya ada tiga lantai. Tetep aja susah nyari tempat duduk :(


Deket-deket ujian, perpus yang awalnya rame jadi makin rame, susah banget buat nyari tempat duduk ,mahasiswa-mahasiswa disini kalau udah di perpus edan-edananan, kaga pulang-pulang, jadi dari yang gue perhatikan selama ini, mereka kalau belajar seharian, tapi diselingi dengan istirahat, dan gue akhirnya jadi keikut kaya gitu, misal ni yah pagi gue keperpus, nanti siang gue istriahat sejam duajam buat makan sambil ngopi di lobby perpus, lalu lanjut lagi, lalu kalau cape istirahat lagi, gitu-gitu aja. 
Tapi gue selalu salut sih sama orang-orang yang tahan belajar bahkan sampe perpus tutup, jam 23.00 , kalau gue udah angkat tangan, gak masuk lagi ke otak.

  

Perpus kampus kalo malem dan mesin kopi langganan di lobby perpus 

Lobby perpus, biasanya kalau baru cape belajar, pada keluar buat ngerokok sambil ngopi, 

Lanjut ke cerita ujian, hari senin tangal 11 kemaren, gue ujian matkul psikologi dan ternyata gue dapet jadwal yang jam 8 pagi, jam 7.30 gue udah berangkat menuju kampus, mandi enggak, makan belum, solat subuh kagak (soalnya belum adzan), udahlah tuh mampus gila, tertanya pas keluar apartement, eh ujan dan lumayan lebat, karena gue males naik lagi ke lantai 6 buat ngambil payung, jadilah gue ujan-ujanan ke kampus, sampe di depan gedung ujian, ternyata gedungnya masih dikunci dan jadilah gue sama temen-temen yang lain nunggu nunggu didepan gedung sambil ujan-ujanan, karena dari mereka enggak ada satupun yang inisiatif buat pergi dan masuk ke gedung lain buat neduh, ya akhirnya gue juga ngikut bediri ujan-ujanan, dalem ati gue cuma bisa nyinyir “untung ku bukan putri duyung“


Gue enggak tau apakah cerita ini bisa ngasi gambaran jelas ke kalian tentang gimana kuliah dan ujian semester dikala udara lagi dingin-dinginnya, kalau masih burem, nanya aja yakk, hehehe. 

Walaupun sejujurnya, gue lebih suka musim panas dan musim semi, di tapi so far, gue menikmati proses perkuliahan dan kehidupan gue disini selama musim dingin, lumayan lah ya dapet pengalaman.

Adakah juga dari kalian yang pengen ngerasain musim dingin di Eropa? 
Share
Tweet
Pin
Share
31 komentar
Dari tahun ke tahun, semakin banyak orang liburan ke Eropa dan mungkin lo pernah liat beberapa orang yang entah itu liburan/tinggal di Eropa, upload foto atau video seputar kegiatan mereka, yang keliatannya menyenangkan banget. Padahal, liburan ke Benua Biru itu engga gampang-gampang amat. Berdasarkan pengalaman gue, kalau ngajuin buat Visa pelajar, gue bisa bilang itu lumayan gampang, tapi bikin Visa Turis? Yah, gampang-gampang susah lah ya.
Sebelum lo ngajuin Visa buat liburan ke Eropa, wajib banget namanya memperhatikan dokumen dan hal-hal apa aja yang harus dipersiapkan sebelum pergi ke kedutaan negara yang dituju. Syarat dibawah ini mutlak ada untuk kedutaan manapun, biasanya, kurang satu aja, Visa lo bakal di TOLAK.  Jadi, perhatiin ini baik-baik kalau lo juga pengen nulis cerita perjalanan ala-ala gue ke benua biru. Asik
1. Formulir
Yang pertama banget adalah formulir, sekarang hampir semua formulir Visa yang harus kita isi sudah bisa diunduh lewat website masing-masing kedutaan. Jadi, engga perlu langsung datang ke sana. Kalau udah punya formulirnya, tinggal pastiin semua semua data yang diisi dalam formulir dan juga dokumen-dokumen yang diminta udah lengkap, setelah itu, baru deh  ke Kedutaan. Sebaiknya jangan pergi ke kedutaan sebelum dokumen-dokumen lo lengkap, kenapa? biar ga bolak-balik aja sih , hehehehe.

2. Paspor
via. nationalgeographic.co.id
Pastikan masa aktif paspor  lebih dari enam bulan dari masa berlaku. Beberapa Negara bahkan meminta syarat agar paspor masih berlaku seenggaknya sampai tiga bulan setelah kita pulang dari Eropa. Yah, buat amannya, ambil aja jarak minimal enam bulan dari masa kepulangan dari negara yang lo tuju.

3. Pas Foto Terbaru
Nah, kalau soal foto, masing-masing kedutaan punya aturan sendiri soal pas foto. Tentunya lo bisa cek syaratnya di website resmi mereka, soal kaya apa backgroundnya, berapa ukurannya dan berapa jumlahnya. Hal yang keliatannya sepele tapi harus bener-bener diperhatiin, jangan sampai bolak-balik mengurus visa hanya karena salah foto, rugi waktu banget itu mah.

4. Fotokopi Dokumen Pribadi
Nah ini penting juga nih, wajib banget siapin fotokopi KK, KTP, Akta Kelahiran atau Akta Nikah atau dokumen-dokumen lainnya sesuai dengan jumlah yang diminta, lebih banyak lebih bagus, buat jaga-jaga. Kalau gue waktu ngurus Visa, gue fotokopi semua dokumen yang dirasa perlu even itu ga diminta sama kedutaan, intinya, jaga-jaga aja. Biar ga bolak-balik keluar masuk kedutaan.
via. cermati.com
5. Asuransi Perjalanan
Salah satu syarat buat masuk ke Eropa adalah punya asuransi perjalanan dengan jumlah coverage minimal 30 ribu Euro atau sekitar Rp 477 juta. Dan satu hal yang penting, engga semua asuransi diterima, jadi pilihlah yang asuransi yang berstandar internasional kaya AXA, AIA, ACE dan lain sebagainya.

6. Copy Rekening Tabungan Tiga Bulan Terakhir
Nah ini yang rada berat sih kalau menurut gue, sepengalaman gue, sebelum ngurus Visa Pelajar ke Prancis, kita harus ngasi copy rekening koran tiga bulan terkahir senilai minimal Rp. 100 juta , tapi inget, beda negara, berbeda pula jumlah saldo yang diminta ada di dalam rekening. Paling rendah ada di angka Rp 25 juta per orang dan jumlah ini literally engga boleh kurang. Namun sebagian besar Negara mensyaratkan minimal Rp 50 juta sebagai saldo mengendap di rekening selama perjalanan di Eropa.

7. Surat Keterangan Kerja
Kalau kalian pegawai di sebuah perusahaan, surat keterangan kerja dan izin cuti ini sangat ngebantu untuk mempermudah pengurusan Visa kalau mau jalan-jalan atau merantau ke benua biru. Semakin besar dan terpercaya tempat kerjanya, akan semakin mudah ngurus visa ke Eropa.
Terus freelancer gimana dong? tenang aja, dokumen ini cuma sebagai penunjang kok, kan nanti lo juga bakal di wawancara pas di kedutaan, nah pinter-pinterlah nanti ngomong pas disana.
via. abcnews.com
8. Bukti Booking Tiket Pesawat
Ingat ya, yang diperlukan cuma bukti booking aja, bukan bukti pembelian tiket. Beberapa agen perjalanan memberlakukan sistem booking selama beberapa waktu sebelum tiket dinyatakan hangus. 
Hal penting buat nyiasatin Visa, ajuinlah berkas ketika masa booking tiket masih berlaku. Misalnya nih ya, lo bisa juga booking tiket Garuda Airlines beberapa jam sebelum berangkat ke kedutaan, sebagai bukti bahwa lo memang sudah mesan tiket untuk berangkat. Tapi lebih baik lagi kalau udah punya tiket Garuda Airlines buat perjalanan pulang. Jadi lo engga akan dicurigai bakal jadi imigran gelap yang nggak mau pulang dari Eropa. Kan ga lucu ya, hahaha.
Tips juga nih, sebaiknya jangan beli tiket Garuda Airlines dulu sebelum dapet Visa Eropa. Karena engga semua Visa diterima sama kedutaan, dan alasannya pun biasanya engga disebutin, makanya diawal gue bilang bikin Visa itu susah-susah gampang. Tapi, baru setelah dapet Visa, lo bisa langsung beli tiket tiket pesawat buat berangkat ke sana.

9. Bukti Booking Hotel
Bukti ini diperluin kalau lo engga punya saudara atau teman yang bisa ngasih surat undangan atau referensi. Biasanya, pihak hotel bakalan ngasih surat rekomendasi setelah lo bayar penuh. Tapi beberapa ada yang bisa cuma dibooking aja sebagai bukti, dan free charge jikalau misalnya kita batalin booking. Kalau gue, waktu itu gue booking hotel di airbnb demi nyari yang paling murah, hahaha.

Gue waktu ngurus Visa Pelajar ke Prancis, gue mendadak jadi ribet dan parno, karna takut Visa bakal di tolak, tapi alhamdulillah semua berjalan lancar, so, buat kalian yang pengen liburan ke Eropa.

Dan yang terakhir, selamat mengurus visa!
Share
Tweet
Pin
Share
15 komentar
Ini foto waktu masih awal-awal semester 1, masih rami kelasnya nah
Gue inget banget nih ya, waktu di Jogja, sering nonton film di Bioskop karena tiket nya yang murah super banget, lo bayangin dong hari senin cuma 25 ribu, beli satu gratis satu di CGV. Oke skip, tapi udah hampir satu tahun tinggal di Perancis, gue seumur-umur baru sekali nonton di bioskop, itupun gue nyesel udah buang 5€ gue yang berharga hahaha. Eh tapi tiba-tiba gue kepikiran buat bikin postingan ini, engga jadi rugi 5€ nya. Gue nyoba ngulik-ngulik, kiranya “Hal apa yang yang berubah setelah gue tinggal dan kuliah di luar negeri? gue akan jabarin dengan beberapa point yang bener-bener pure dari pengalaman gue selama satu tahun belakangan ini tinggal dan kuliah di Perancis. Mana tau bisa jadi pandangan buat kalian yang berencana study abroad juga.

1. Super-Independent

Kalau beberapa orang pergi ke negara yang baru pertama kali mereka datangi, mungkin akan diantar oleh kerabat atau orang tua atau juga misalnya ada beberapa orang pakai jasa agen yang datengnya beramai-ramai, sampai di bandara udah di jemput, diajak jalan-jalan lalu dianterin ke rumah mereka yang udah di bookingin jauh-jauh hari.  

But when I moved abroad, pertama kalinya nginjekin kaki di luar negeri, gue melongo sendirian di bandara Paris Charles de Gaule dengan 1 koper gede, 1 tas travel bag dan sebuah tas backpack. Gue, engga tau sama sekali gimana caranya mindahin badan gue ini dari Paris ke kota Caen (tempat gue kuliah). Engga ada yang jemput,  engga ada temen, bener-bener sendirian. Kaya orang lingung, engga tau harus mulai dari step mana, engga tau apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, perasaan gue campur aduk, seneng, excited plus juga takut.

Tapi toh gue bisa ngelewatin semuanya, sekarang gue jadi engga kagok lagi jalan atau pergi sendirian ke tempat yang even gue engga tau betul daerah itu kaya apa. Gue juga ngerasain ada perubahan di hal lain, mulai dari memanage keuangan bulanan, ngabisin waktu yang super duper lama kalau beli bahan makanan karna sudah kebawa konsep "Yang penting harus murah", rutin nyobain resep-resep baru, selalu berusaha ngehemat listrik dll,  hal-hal yang dulunya bisa gue “Skip” untuk gue lakukin sewaktu di Indonesia, gue harus lakuin semuanya disini. I have no choice but i enjoy it.


2. Be more open minded

Gue kalo di foto rame-rame kadang entah kenapa sering dipojok 
Lo akan ketemu banyak orang dengan perspective yang berbeda, lo akan ketemu berbagai macam orang dengan sudut pandang yang beda,  and of course i’ve learned to respect diversity. Contoh sederhana, orang Indonesia dan juga gue tentunya, lahir dan dibesarkan dengan sebuah agama, di Indonesia pun agama boleh “Dipertontonkan” di depan publik, i mean, lo bisa denger suara adzan walaupun rumah lo 100 meter jaraknya dari masjid atau lo bisa nonton live report kegiatan misa natal di gereja di TV nasional.

Silahkan pergi ke Perancis, negara sekuler yang bahkan lo ga bisa denger suara adzan even masjid berada di seberang jalan rumah lo. Waktu gue ngobrol soal Sekularisme di Perancis sama dosen (Favorit) gue, doi bilang kurleb begini “Perancis adalah negara yang berusaha netral dengan semua agama, kita engga mau memihak agama apapun, semua orang bebas, mau percaya Tuhan atau engga, kita engga bisa memaksa mereka, Tuhan itu dihati kita, hubungan pribadi, hanya urusan kita, engga perlu di “Publikasikan”. Secara engga langsung ini bisa bikin lo lebih toleransi terhadap orang lain, lo akhirnya bisa tau, bahwa setiap hal apapun yang mungkin “enggak lo setuji” ketika lo berada di Indonesia, akhirnya bisa lo pahami sebabnya.

3. Transportasi umum lah segalanya

  

Lo tau gak kalo kebanyakan orang Indonesia, lebih memilih naik motor buat pergi ke suatu tempat yang kalau dengan jalan kaki, cuma butuh waktu 5 menit. Gue, salah satu dari golongan orang-orang ini nih, pergi ke depan komplek buat beli pulsa pun haramlah udah jalan kaki. Baru nih ya, sejak tinggal di Perancis gue mulai terbiasa jalan kaki, karena engga punya motor apalagi mobil, sehari-hari gue pakai bus atau tram buat pergi ke suatu tempat. Kadang kalau gue lagi males karena tram sering penuh, gue lebih milih jalan kaki, toh kampus gue jaraknya cuma sekilo dua kilo dari rumah. Tapi akhir-akhir ini gue lebih milih pake sepeda yang bisa disewa kapanpun lo butuh, kaya temen sejati, jadi ada semacam "Pangkalan"nya gitu, tinggal masukin kode, udah deh bisa ambil sepedanya, nanti kalau udah kelar make tinggal balikin di "Pangkalan" manapun yang kita mau. Engga harus di tempat yang sama ketika minjem. Enak kan?

4. Makin cinta Indonesia.

"Lo ga akan tau apa yang ada di luar kotak kalau lo selalu berada di dalam kotak"

Quote ini, bener-bener berlaku dan baru gue rasakan setelah tinggal di Perancis, beneran baru ngerasa Indonesia tuh indah banget cuyyyy setelah jauh dari Indonesia,  gue juga sering jadi duta wisata dadakan dengan cara nunjukin foto-foto objek wisata di Indonesia ke temen di kampus, dan yang pasti gue kangen gado-gado dan gudeg Jogja, kepengen banget makan padang sampe kadang baper sendiri, selalu ngiler kalau liatin gambar ayam geprek, atau lontong banjar, kangen makan batagor (lah kok makanan semua) hahaha. Pokoknya gue jadi sadar kalo makanan Indonesia itu enak bangeet woyyyy!!! Dan gue juga sadar bahwa walaupuun negara orang itu enak, transportasi umum bagus, tepat waktu dll dsb dll lah pokoknya, toh walaupun gitu, gue juga tetep selalu kangen dan pengen liburan ke Indonesia.


Ohya, juga gue makin deket sama orang tua, berasa banget kalo orang tua itu dua manusia yang paling penting di hidup gue sekerang, seperti rasanya gue bener-bener baru ngerasa bahwa yang namanya jarak itu malah bikin cinta makin kelihatan besarnya. Eaaa

Sebetulnya banyak sih hal yang yang berubah dari gue setelah tinggal di Perancis, contohnya gue yang sekarang jarang ngafe karna kudu berhemat, yang dulu ngomong inggris engga pede searang jadi pede, juga jadi ngerasa makin passionate sama pendidikan dan hidup gue dsb.

Sebetulnya, apa yang gue jabarin itu engga selalu sama lho, beberapa orang mungkin bisa berubah sedemikian rupa karena study abroad tapi sebagian lain mungkin engga terlalu ketara. Terlepas dari semua itu, kalau lo punya keinginan buat kuliah ke luar negeri atau mungkin kuliah di Perancis, lakukan aja, carilah jalan menuju kesana semaksimal yang lo bisa. Karena study abroad (menurut gue) bener-bener asik, lo akan belajar hal baru, budaya baru, ketemu orang baru dengan cara pandang yang berbeda luar biasa dan tentunya akan ngasih lo pengalaman yang engga pernah lo dapetin sebelumnya ketika lo masih di Indonesia.

Tetap semangat!
Share
Tweet
Pin
Share
25 komentar
Setelah satu tahun nganggur dan menjalanin hari-hari dengan belajar bahasa Perancis di Jogja dari pagi sampai sore, akhirnyaaa,,,

Gue kuliah,  sudah 4 minggu gue menyandang status sebagai "Mahasiswi UNICAEN".

 Unicaen pas gue foto ini masih liburan, lumayan sepi.

Selama setahun kursus bahasa di Jogja, tiap kali ada yang nanya "Kamu kuliah dimana?", gue harus muter otak untuk menyiapkan jawaban, parce que ça va être compliqué, salah jawab sedikit bisa bahaya karena gue engga mau terkesan sombong dan songong :(

Mari ke inti cerita, itu tadi baru intermezzo.

Sebenernya gue mau ngasih judul postingan ini "Cobaan hidup di Perancis", iya karena memang itu inti dari tulisan ini, tapi kalian jangan mikir buruk, postingan ini ditulis bukan buat sarana mengluh, tapi murni ingin berbagi hal-hal yang gue alami disini.

Mimpi gue sedari SMP adalah pengen ke Perancis, semakin beranjak dewasa, semakin juga gue serius untuk meraih mimpi itu. Et finallement, gue bisa nginjekin kaki di sini, di Perancis.

Gue berhasil keluar dari comfort zone ketika mulai merantau ke Jogja dan setelahnya gue berhasil (lagi) meningglkan comfort zone yang sekarang dengan cara merantau ke Perancis. Awalnya excited dan terharu, tapi semakin ke sini gue udah mulai terbiasa, kadang malah ketika bangun pagi, buka jendela, denger orang ngomong pakai bahasa Perancis, gue bergumam "Oh iya ya lo udah di Perancis ki".

Banyak yang berkata "Wah enak ya bisa ke Perancis. Wah asik ya kuliah di luar negeri".
Hmmm gimana ya, gue cuma bisa senyum aja kalau orang bilang gitu, gue seneng dan bersyukur serta merasa beruntung sekali karena bisa kuliah di sini. Tapi, semuanya engga seindah dan engga segampang yang orang lain bayangkan dan pikirkan.*drama banget*.

Dan sekarang akan gue jabarkan beberapa tantangan yang gue alamin selama dua bulan ini hidup di negeri orang.

1. Bahasa
Sekalipun sudah kursus bahasa asing selama hampir satu tahun, engga menjamin kita bisa langsung fasih sekali berbicara bahasa itu, ditambah lagi sesampainya disini, gue langsung masuk ke dunia perkuliahan, kalau dulu di tempat kursus masih bisa nyempil bicara bahasa Indonesia, di sini, mau engga mau ya harus bicara bahasa Perancis, alhasil karena bahasa Perancis gue belum terlalu fasih, gue kesusahan sekali mengikuti dunia perkuliahan.

Gue jelaskan dulu, kuliah di sini itu ada dua macam kelas, kelas CM (Cours Magistral) dan kelas TD (Travaux Digire). Kelas CM itu kelas besar yang satu kelas isinya bisa 200-300 orang, tempatnya di auditorium, bisa dua kali lebih besar ketimbang ruang bioskop.

Salah satu kelas CM, mas didepan gue "kuliah banget"

Di kelas ini kadang untung-untungan, kalau dosen nya ngejelasin pakai power point, gue beurntung, tapi kalau dosen nya ngejelasin tanpa power point semisalnya di dikte-in gitu, Subhanallah, mumet gue karena kadang ini telinga kurang jelas dengernya + belum terlalu banyak kosa kata Perancis yang gue tau. hahaha. Di kelas CM gue selalu ngerekam penjelasan dosen biar bisa didengerin lagi sehabis kuliah selesai.  Jadi misalnya empat jam kelas CM, ya empat jam juga hp gue harus kerja keras.

Lain lagi sama kelas TD, yang artinya kelas kecil, jadi kalau satu jurusan itu muridnya 200-an, nah dari 200 itu dibagi lagi menjadi enam kelas kecil, yang isinya sekitar 30-an siswa per kelas. Disini gue lumayan bisa memahami karena lebih jelas terdengar oleh gue. Tapi justru dikelas ini gue sering ketakutan, takut kalau dosen tiba-tiba nanya ke gue engga ngerti, takut kalau disuruh ngerjain tugas tappi gue engga ngerti dsb.

Temen-temen gue yang senasib, juga bilang bahwa menjadi mahasiswa etranger itu memang engga mudah, malah kata mereka, biasanya 3 semester awal lo engga akan terlalu mengerti dan kesusahan mengikuti dunia perkuliahan.

2. Makanan
Engga di Indonesia engga di Perancis, tetep aja gue goyannya nasi goreng 

Dulu waktu masih di Indonesia, gue sering liat bule di Malioboro yang makan di MCD, gue heran kenapa mereka pergi ke negeri orang tapi engga mau berusaha untuk menyelaraskan diri dengan lingkungan sekitar, misalkan dengan makan nasi pecel, gudeg, atau soto ayam pinggir jalan. Sampai ketika gue di Perancis.

Ternyata oh ternyata gue juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan para bule waktu di Indonesia. sekarang pun gue tiap hari makannya masih nasi, selalu nyari nasi dimana-mana, masih berasa engga makan kalau makannya bukan pakai nasi. masih suka makan gorengan, masih doyan  bikin es teh manis atau beli Indomie goreng di toko asia.

En plus, disini susah sekali mencari makanan halal, kalaupun ada, engga banyak, seperti nugget misalnya, engga enak sama sekali atau kalaupun beli makanan diluar, misalnya mereka jual ayam, tapi juga ada menu babi.


Satu-satunya tempat makan yang terjamin ke hahal-an nya adalah di warung kebab. By the way, kebab disini itu pakai roti ya bukan yang kaya di Indonesia,

3. Jadi minoritas

sumber gambar dari google

Menjadi minoritas itu engga mudah, kalau di Indonesia masjid itu banyak, disini masjid cuma ada dua, dan jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal gue, kalau di Indonesia lo bisa dengar suara adzan yang cakupannya bisa sampai 500 Meter, disini engga bisa, karena itu dianggap SARA.

Kalau di Indonesia gue bisa dengan nyaman hati mengenakan jilbab, disini, kadang gue merasa takut dan khawatir , karena dari cerita yang gue tau, islam itu engga disukai di Perancis (Orang perancis langsung yang bilang ke gue), mungkin karena akhir-akhir ini banyak keajadian yang engga menggenakan di sini. Well, sebelum masuk kuliah gue takut pas nanti di kampus engga ada yang mau temenan sama gue karena gue muslim tapi ketika sudah mulai kuliah, gue dapat temen juga yang engga mempermasalahkan tentang gue yang pakai jilbab, atau misalkan gue nanya ke orang yang engga di kenal, mereka responnya Alhamdulillah sejauh ini selalu baik dan ramah ke gue. *sumpah ini banyak banget "gue", susah ya ternyata bikin kalimat yang efektif :(

Ngomong-ngomong ada kejadian lucu antara gue dan salah seorang teman di kampus.  Pernah suatu ketika waktu kami baru keluar dari perpustaaan dia nanya ke gue

(Bahasa udah di translate)
👩ki, kamu muslim ya?
👧Iya aku muslim
👩Oh iya pantas kamu pakai jilbab, apa kamu sudah menikah?
👧belum, kenapa kamu mikir begitu?
👩ah non, aku kira perempuan yang pakai jilbab artinya sudah menikah
👧(sambil senyum) perempuan muslim, menikah engga menikah, mereka diperintahkan untuk pakai jilbab karena itu identitas diri.

Eeaaaa.... haha jadi tukang dakwah sehari.

4. Individualis
Orang Perancis itu individualis sekali lho, acuh tak acuh lah istilahnya, misalanya di kampus, mereka sudah punya teman satu atau dua orang, nah mereka engga terlalu tertarik lagi untuk nyari temen tambahan, mereka kayanya engga berambisi punya banyak kerabat. Dan di sini juga orang-orang engga malu untuk "sendiri", misalnay di kampus sendiri, kelar kelas, pulang deh, bodo amat gue punya teman atau engga, mungkin kurang lebih seperti itu konsep pikiran mereka. Alhasil gue sebagai orang Indonesia yang mayoritasnya pengen punya banyak kenalan,, jadi kesusahan nyari teman, tapi syukurnya, gue udah punya beberapa teman di kelas.

Nah itu dia empat point, "empat doang tuh ki",, weee empat itu aja udah nyes lhooooo hahaha. Lain kali kalau ada hal lain bakal gue update lagi deh.

Kalau kalian gimana? apa hal yang kurang enak yang kalian rasain pas jadi perantau? Cerita dong ke gue..
Share
Tweet
Pin
Share
45 komentar

Hai, gimana kabar kalian?

Gue ngerasa udah lama banget nah meninggalkan dunia per blog-an, engga nulis blog, engga blog walking, bahkan gue engga buka blog sendiri, sekalipun untuk sekedar liat-liat doang. Tapi ternyata pas kemaren gue liat postingan terkahir, gue baru engga update dua bulan doang ko, engga parah-parah banget kan ya? Hahaha.

Gue akan jelaskan secara (semoga) singkat kenapa gue jadi kaya gini *ciahh. Jadi, sebulan belakangan ini gue baru sibuk pindahan, pindah kemana? Pindah keluar dari comfort zone *eaaa

Tanggal 8 Agustus kemaren, gue berngkat ke Perancis buat proyek studi *alah bahasa lo ki. Ya intinya gue kuliah S1 disini.

Emang yah, hidup itu engga selalu bakalan anteng-anteng aja, adaaaa aja cobaannya.
Share
Tweet
Pin
Share
55 komentar



Semoga tulisan ini bisa jadi penyemangat buat gue dan kalian-kalian semua yang sedang mempelajari bahasa baru, entah bahasa apapun itu. Semangaatt!!

***

Oke, sudah 51 hari gue belajar bahasa Perancis. Sama kaya bahasa-bahasa lain, disini kita juga ada tingkatannya. A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Sekarang gue udah di level A2 akhir. Waktu di level A1, kelas cuma diisi oleh 3 orang, jauh dari eskpetasi yang gue kira jumlahnya lebih dari 5 orang, setiap hari kita berasa kayak les privat ditambah lagi gurunya yang gak mau ngomong pake bahasa indonesia dan gak boleh buka kamus karna katanya biar kita terbiasa dan tiap kali gue keceplosan ngomong bahasa ingonesia doi selalu bilang "je ne parle pas indonesie" yang artinya "aku gak bisa ngomong bahasa indonesia" makin terseok-seok lah gue
Share
Tweet
Pin
Share
54 komentar
Older Posts

Author

Facebook

Suka mikir, makan, main, jalan dan lagi ngulik-ngulik ilmu baru di Prancis buat dibawa pulang ke Indonesia

Follow Me

Google+

Galeri

Popular Posts

  • Sedikit cerita di masa lalu.
    Sedikit cerita di masa lalu.
    yang doyan ke SunMor UGM pasti tau doi hahaha ( (Sumber gambar) "Kalau fisik lo biasa-biasa aja,  jualan lo satu-satunya ya kepr...
  • Sedikit kisah di Institut Français d'Indonésie
    Sedikit kisah di Institut Français d'Indonésie
    Intro dulu dikit yah, aku di IFI ngambil kelas CFA (lupa kepanjangannya), CFA adalah kelas percepatan bahasa perancis jadi kita dijanjikan ...
  • Ada apa di jendela?
    Ada apa di jendela?
    Bonjour a tous Mungkin kalian mikir kalau gue salah ngasih judul dan nyletuk "Ki harusnya judulnya Ada apa pada jendela ki" eh e...
  • Percakapan 5 menit
    Percakapan 5 menit
    Malem Idul Adha beberapa waktu yang lalu, gue iseng nulis private mesagge di BBM. Iya gue alay terus kenapa? Jadi gue nulis “Halo Banjar...

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  April (1)
      • Ribetnya birokrasi di Prancis!!!
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2017 (12)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (11)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2015 (48)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
    • ►  September (7)
    • ►  Agustus (16)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (6)
    • ►  April (9)
  • ►  2014 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Part Of



Blogger Perempuan

Followers

Pageviews

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates